Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah

Mengenal Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah

Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah

Pengertian Pembiayaan Musyarakah

Mengenal Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah, Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah  adalah akad kerjasama yang terjadi diantara para pemilik dana untuk menggabungkan modal, melalui usaha bersama dan pengelolaan bersama dalam suatu hubungan kemitraan.

Bagi hasil ditentukan sesuai dengan kesepakatan. (biasanya ditentukan berdasarkan jumlah modal yang diberikan dan peran serta masing-masing pihak) atau dengan kata lain merupakan akad bagi hasil ketika dua atau lebih pengusaha pemilik dana/modal bekerja sama sebagai mitra usaha membiayai investasi usaha baru atau yang sudah berjalan.

Para pihak dapat membagi pekerjaan mengelola usaha sesuai kesepakatan dan mereka juga dapat meminta gaji/upah untuk tenaga dan keahlian yang mereka curahkan untuk usaha tertentu.

Definisi al-syirkah menurut para ulama aliran fiqih ini diakomodir oleh fatwa DSN MUI. Fatwa, dalam kaiatannya dengan pembiayaan, mengartikan al-syirkat dengan,

“pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan dana bahwa keuntungan dan resiko akan di tanggung bersama sesuai dengan kesepakatan”.

Pengertian ini dijadikan landasan oleh UU No.21 tahun 2008 dalam mendefinisikan al-syirkat secara operasional dan akan di uraikan kemudian.

Berdasarkan pengertian diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa al-syirkat adalah suatu transaksi dua orang atau lebih, transaksi ini meliputi pengumpulan dana dan penggunaan modal.

Tetapi terdapat beberapa versi dalam al-Qur’an dan juga beberapa keterangan dari Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan ulama yang menyatakan keabsahan musyarakah untuk dilaksanakan dalam dunia bisnis menjadi sebuah istilah yang diartikan sebagai pencampuran salah satu dari macam harta dengan harta lainnya sehingga tidak dapat dibedakan di antara keduanya.

Adapun pengertian musyarakah menurut isthilah, empat madzhab memberikan definisi yang berbeda-beda;

  1. Mazhab Maliki ”AnYa’dzana kullu wahid min syarikaini lishahibihi wa an yathasarrafa fi maal lahuma ma’a ibqai haq al-tasharrufi li kuliminhuma”. (Salah satu dari dua orang memberikan izin kepada salah satu lainnyauntuk mengolah harta mereka dan keduanya berhakatas harta itu)
  2. MazhabSyafi’i ”al-ijtima’ fi isthihqaq au tasharufin”. (berserikat dalam berbisnis ataukepemilikian).
  3. Mazhab Hambali ”Syubut al-haq fi syain lisnain fa akhsar ’alajihat al-syuyu’”. (menetapkan kepemilikian suatu barang antara dua orang ataulebih dalam suatu usaha bersama)
  4. Mazhab Hanafi ”’ibarat an aqd baina almutasyarikainifi ra’sil maal wa ribhi” (perjanjian antara dua orang dalam pengembangan modal dan keuntungan).

Dari empat definisi tersebut di atas, mazhab Hanafi lebih tepat dalam mengartikan pengertian syirkah sebagai suatu perjanjian atas dua orang untuk mengelola harta benda secara bersama-sama dan keuntungan dibagi secara proporsional.

Dan dari pengertian mazhab Hanafi inilah kemudian, syirkah dipopulerkan dalam dunia perbankan sebagai suatu produk pembiayaan Islami.

 

Musyarakah dalam undang-undang

UU menyebutkan akad musyarakah di dalam lima tempat, yaitu pada pasal 1 ayat (25) huruf a tentang pembiayaan berupa transaksi bagi hasil, pasal 19 ayat (1) huruf c tentang kegiatan usaha bank umum syariah berupa penyaluran pembiayaan,

pasal 19 ayat (2) huruf c tentang kegiatan usaha UUS berupa penyaluran pembiayaan, pasal 19 ayat (1) dan (2) masing–masing huruf i tentang kegiatan usaha Bank umum syariah dan UUS berupa pembelian, penjualan atau menjamin atas resiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata atas dasar prinsip syariah, dan pasal 21 huruf b angka 1 tentang kegiatan usaha BPRS berupa penyaluran pembiayaan bagi hasil.

Petunjuk teknis operasional pasal-pasal di atas, meskipun UU ini ditetapkan tahun 2008, mengacu kepada: PBI No.7/46/PBI/2005 tentang akad penghimpunan dan penyaluran dana bagi Bank yang melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip syariah;

PBI No. 8/24/PBI/2006 tentang penilaian kualitas aktiva bagi bank perkreditan rakyat berdasarkan prinsip syariah; dan SE BI No. 10/14/Dpbps/2008.

Pengertian musyarakah di dalam ketiga PBI ini sama yaitu penanaman dana dari pemilik dana/modal untuk mencampurkan dana/modalnya pada suatu usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya sedangkan kerugian di tanggung oleh pemilik dana sesuai dengan besar modal atau dana dari masing-masing.

Manfaat dan fungsi pembiayaan musyarakah

Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah

Manfaat pembiayaan bagi bank syariah adalah sebagai berikut:

  • Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu pada saat keuntungan nasabah meningkat.
  • Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu dalam jumlah tertentu kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi di sesuaikan dengan pendapatan/ hasil usaha bank sehingga banktidak merugi
  • Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow/ arus kas usaha nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah.
  • Bank akan lebih selektif dan hati-hati dalam menangani nasabah.

Adapun fungsi dari pembiayaaan adalah sebagai berikut:

a) Meningkatkan daya guna uang.

Para penabung menyimpan uang di bank dalam bentuk giro, tabungan dan deposito. Uang tersebut dalam prosentasie tertentu ditingkatkan kegunaannya oleh bank guna suatu usaha peningkatan suatu produktivitas.

Para pengusaha menikmati pembiayaan dari bank untuk memperluas /memperbesar usahanya baik untuk peningkatan produksi maupun, perdagangan maupun untuk usaha-usaha rehabilitasi ataupun untuk memulai usaha baru.

Pada asasnya melalui pembiayaan terdapat suatu uasaha peningkatan produktivitas secara menyeluruh. Dengan demikian dana yang mengendap di bank (yang diperoleh dari penyimpanan uang) tidaklah idle (diam) dan disalurkan pada usaha-usaha yang bermanfaat, baik kemanfaatan bagi pengusaha ataupun bagi masyarakat.

b) Meningkatkan daya guna barang.

Produsen dengan bantuan pembiayaan bank dapat memproduksi bahan mentah menjadi barang jadi sehingga utility contohnya kelapa menjadi kopra dan selanjutnya menjadi minyak kelapa/goreng.

Produsen dengan bantuan pembiayaan dapat memindahkan barang dari suatu tempat yang kegunaanya kurang ke tempat yang lebih bermanfaat.

Seluruh barang yang dipindahkan / dikirim itu dari suatu daerah kedaerah lain yang kemanfaatan barang itu lebih terasa, pada dasarnya meningkatkan utility barang itu.

Pemindahan barang-barang tersebut tidaklah dapat di atasi oleh keuangan para distributor saja dan oleh karenanya mereka memerlukan bantuan permodalan dari bank berupa pembiayaan.

c) Meningkat peredaran uang

Pembiayaan yang disaluran melalui rekening-rekening Koran pengusaha menciptakan peredaran pertambahan peredaran uang giral dan sejenisnya seperti cek, biyet giro, wesel dan sebagainya.

Melalui pembiayaan peredaran uang kartal ataupun uang giral akan lebih berkembang oleh karena itu pembiayaan menciptakan kegairahan berusaha sehingga kegunaan uang akan bertambah baik kualitatif ataupun kuantitatif.

d) Meningkatkan kegairahan berusaha.

Setiap manusia adalah makluk yang selalu melakukan kegiatan ekonomi yaitu berusaha memenuhi kebutuhannya. Kegiatan usaha

sesuai dengan kegiatan dinamikanya akan selalu meningkat akan tetapi peningkatan usaha tidaklah selalu diimbangi dengan peningkatan kemampuannya yang berhubungan dengan manusia lain yang mempunyai kemampuan.

Karena itulah pengusaha akan selalu berhubungan dengan bank untuk utuk memperoleh permodalan guna meningkatkan usahanya. Bantuan modal usaha dari bank inilah yang kemudian digunakan oleh pengusaha untuk memperbesar usaha atau produktivitasnya.

e) Stabilitas ekonomi.

Dalam ekonomi yang kurang sehat, langkah-langkah stabilisasi pada dasarnya di arahkan pada usaha-usaha antara lain: pengendalian inflasi, peningkatan ekspor, rehabilitasi prasarana, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan produk rakyat.

f) Sebagai jembatan untuk meningkatkan pendapatan nasional

Para usahawan yang memperoleh pembiayaan tentu saja berusaha untuk meningkatkan usahanya meningkatkan usaha berarti meningkatkan profit.

Bila keuntungan ini secara kumulatif dikembangkan lagi dalam arti kata dikembangkan lagi di struktur permodalan, maka peningkatan peningkatan akan berlangsung terus menerus. Dengan pendapatan yang terus meningkat berarti pajak perusahaanpun akan terus bertambah.

Dilain pihak pembiayaan yang disalurkan akan merangsang pertambahan kegiatan ekspor akan menghasilkan pertambahan devisa Negara.

Disamping itu dengan makin efektifnya kegiatan swasembada kebutuhan-kebutuhan pokok, maka akan menghemat devisa keuangan Negara, akan dapat diarahkan pada usaha-usaha kesejahreraan ataupun ke sektor-sektor lain yang lebih berguna.

Apabila rata-rata pengusaha, pemilik tanah, pemilik modal dan buruh/karyawan mengalami peningkatan pendapatan maka pendapatan Negara via pajak akan bertambah, penghasilan bertambah, dan penggunaan devisa untuk urusan konsumsi berkurang, sehingga langsung ataupun tidak pendapatan nasional akan bertambah.

g) Sebagai alat hubungan ekonomi internasional.

Bank sebagai lembaga pembiayaan tidak saja bergerak di dalam negeri tapi juga diluar negeri. Negara-negara kaya yang kuat dalam bidang ekonominya demi persahabatan antar bank banyak memberikan bnatuan pada Negara-negara yang sedang berkembang atau yang sedang membangun.

Bantuan tersebut biasanya dilakukan dalam bentuk kredit dengan syarat yang ringan yaitu dengan bunga yang relative ringan dan jangka waktu penggunaan yang panjang. Melalu hal inilah maka hubungan antara bank pemberi pinjaman dan penerima pijaman berjalan dengan baik.

 

Jenis –Jenis Pembiayaan Musyarakah

a) Syirkah Inan

Akad kerja sama antara dua orang atau lebih, masing-masing memberikan kontribusi dana dan berpartisipasi daam kerja. Porsi dana dan bobot partisipasi dalam kerja tidak harus sama, bahkan dimungkinkan hanya salah seorang yang aktif mengelola usaha yang ditunjuk oleh partner lainnya. Sementara itu, kenuntungan atau kergian yang timbul dibagi menurut kesepakatan bersama.

b) Syirkah Al-Uqud

Syirkah al-Uqud (contractual partnership), dapat dianggap sebagai kemitraan yang sessungguhnya, karena pada pihak yang bersangkutan secara sukarela yang berkeinginan untuk membuat suatu perjanjian investasi bersama dan berbagai untung dan resiko. (Dalam Syirkah al-Uqud dapat dilakukan tanpa adanya perjanjian formal atau dengan perjanjian secara tertulis dengan disertai para saksi.

 

untuk kali ini gerbangpaw hanya membahas tetang Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah baca juga


cara menghitung bagi hasil rekening koran syariah (PRKS)

 

2 pemikiran pada “Mengenal Pembiayaan Musyarakah dalam Bank Syariah”

    • dear mas erwin
      saat ini mungkin bank syraiah memang belum 100% sayriah tetapi dalam proses menuju kesana,., kalo bukan kita yang mengembangkan ekonomi islam siapa lagi mas

      tetapi beberapa dasar atau Konsep produk bank syariah sudah sesuai syariah berdasarkan regulasi terkait yang telah mengadopsi fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI. Salah satunya produk giro iB (Islamic banking) yang mengacu pada fatwa DSN MUI Nomor 01/DSN-MUI/IV/2000 tentang giro. Kemudian, produk deposito iB mengacu pada fatwa DSN MUI Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000 tentang deposito, dan produk berbasis murabahah di antaranya berdasarkan fatwa DSN MUI No.04/DSNMUI/ IV/2000 tentang murabahah.

      Sesungguhnya, fatwa-fatwa DSN MUI adalah produk ijtihad kolektif (ijtihad jamai’) bukan personal. Produk ijtihad kolektif berarti produk kajian para ahli fikih, ahli ekonomi, ahli akuntansi, otoritas terkait, dan lain-lain. Karena menjadi kajian multidi siplin ilmu dan kompetensi, pembahasannya pun memakan waktu lama, pertemuan panjang, dan mempertimbangkan banyak aspek. Jika fatwa DSN MUI menjadi regulasi otoritas, maka itu menjadi mengikat (mulzim) dan harus ditunaikan.

      Balas

Tinggalkan komentar